Renungan Harian

  • Mengutamakan yang Terutama 15 October 2026

    Matius 8:34

    Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

    Tidak semua orang yang menyaksikan pekerjaan Allah akan menyambut-Nya dengan sukacita. Penduduk wilayah Gadara menerima berita yang seharusnya menggembirakan: dua orang yang selama ini dikuasai roh-roh jahat dan menebarkan ketakutan telah dibebaskan. Jalan yang dahulu tidak dapat dilewati kini tidak lagi dikuasai kengerian. Manusia yang hidup di antara kuburan memperoleh kembali martabat dan kehidupannya. Namun, ketika penduduk itu datang menemui Yesus, mereka justru mendesak-Nya meninggalkan daerah mereka.

    Mengapa mereka menolak Pribadi yang baru saja melakukan pembebasan? Kawanan babi mereka telah terjun ke danau dan mati. Mereka melihat pemulihan manusia, tetapi sekaligus menghitung kerugian materi. Ketika harus menentukan apa yang lebih berharga, mereka ternyata lebih terganggu oleh hilangnya babi daripada bersukacita karena manusia dibebaskan. Harga akibat kehadiran Yesus dianggap terlalu mahal bagi kepentingan mereka.

    Kisah ini menjadi cermin yang tajam bagi orang percaya. Kita mudah berkata bahwa kita menginginkan Tuhan hadir, menolong, dan memulihkan hidup. Namun, apakah kita tetap mengingini Dia ketika kehadiran-Nya mengganggu kenyamanan, keuntungan, kebiasaan, atau rencana pribadi? Kita mungkin senang mendengar firman selama firman itu menghibur. Namun, ketika firman menuntut kita melepaskan sesuatu yang kita cintai, kita biasanya melakukan aksi mundur teratur. Tanpa mengatakannya secara langsung, hati kita dapat mendesak Tuhan meninggalkan wilayah tertentu dalam hidup kita.

    Penolakan seperti ini jarang tampil sebagai pemberontakan yang terang-terangan. Kita tetap datang beribadah, menyanyikan pujian, dan menyebut nama Tuhan, tetapi secara praktis membatasi hak-Nya atas keputusan kita. Kita berkata bahwa Tuhan adalah pusat hidup, sementara pekerjaan, uang, keluarga, gengsi, atau kenyamanan tetap menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan. Tuhan hanya diperkenankan masuk sejauh Ia tidak mengubah susunan kepentingan kita. Inilah penolakan yang sangat halus: bibir menerima Yesus, tetapi sekaligus meminta-Nya berhenti di depan pintu. Kita meminta-Nya menolong kita, tetapi tidak mengizinkan-Nya memerintah sepenuhnya.

    “Babi” dalam kehidupan kita tidak selalu berupa uang atau harta. Ia dapat berbentuk kehormatan, hubungan yang tidak berkenan kepada Allah, kesempatan yang diperoleh dengan ketidakjujuran, kepuasan diri, atau hak untuk membalas orang lain. Kita mengetahui kehendak Allah, tetapi takut kehilangan sesuatu apabila menaatinya. Akhirnya, kita lebih memilih mempertahankan milik yang sementara daripada menerima pemerintahan Allah atas hidup kita.

    Di sinilah keadaan batin harus diperiksa. Apakah kita menilai segala sesuatu menurut kegunaannya bagi kepentingan pribadi atau menurut nilainya di hadapan Allah? Bagi penduduk Gadara, kawanan babi lebih mudah dihitung daripada nilai manusia yang dipulihkan. Nilai-nilai dunia memang membuat manusia mahir menghitung harga, tetapi gagal mengenali nilai. Apa yang menguntungkan belum tentu bernilai kekal, dan apa yang terasa sebagai kerugian dapat menjadi jalan ketaatan yang menyenangkan hati Bapa.

    Pengampunan dan anugerah Allah tidak dimaksudkan untuk membuat kita tetap menjadi penguasa atas hidup sendiri. Anugerah memanggil kita keluar dari cara hidup lama dan menempatkan kita di bawah kehendak Allah. Jika kita hanya menerima berkat Tuhan, tetapi menolak koreksi-Nya, sesungguhnya kita tidak menginginkan Tuhan; kita hanya menginginkan manfaat dari-Nya. Iman sejati terlihat ketika seseorang bersedia berdoa dengan tulus, “Apa pun bersedia aku lepaskan, asalkan jangan Kau tinggalkan hidupku.”

    Markus dan Lukas memperlihatkan respons yang sangat berbeda dari orang yang telah dibebaskan. Ketika penduduk meminta Yesus pergi, orang yang telah dibebaskan dari Legion itu meminta supaya ia diperkenankan menyertai-Nya (Mrk. 5:18; Luk. 8:38). Yesus tidak memperkenankannya, tetapi mengutusnya pulang untuk menceritakan betapa besar yang telah Tuhan lakukan baginya. Orang yang telah mengalami pemulihan tidak lagi memandang kehadiran Yesus sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah yang harus diberitakan. Hidupnya sendiri menjadi kesaksian bahwa seorang manusia lebih berharga daripada seluruh keuntungan yang hilang.

  • Matius 8:29

    Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?

    Ada keadaan hidup yang begitu rusak sehingga manusia merasa tidak mungkin dipulihkan. Dua orang di wilayah Gadara hidup di antara kuburan, dikuasai roh-roh jahat, sangat berbahaya, dan membuat orang lain tidak berani melalui jalan itu. Mereka bukan hanya kehilangan ketenangan, melainkan juga kehilangan kehidupan yang sewajarnya sebagai manusia. Masyarakat mungkin telah mengenal mereka cukup lama, tetapi pengenalan itu tidak membuahkan pemulihan. Orang banyak hanya mampu merasa takut, menghindar, dan menerima keadaan tersebut sebagai kenyataan yang tidak dapat diubah.

    Kuburan dalam kisah itu bukan sekadar keterangan tempat, melainkan juga menghadirkan suasana kematian, kenajisan, keterasingan, dan hilangnya pengharapan. Kuasa jahat mendorong manusia menjauh dari komunitas kehidupan dan tinggal dalam wilayah kehancuran. Sebaliknya, pekerjaan Allah selalu mengembalikan manusia kepada kehidupan yang benar: pikirannya dipulihkan, relasinya ditata, martabatnya ditegakkan, dan arah hidupnya dikembalikan kepada rancangan semula. Keselamatan tidak berhenti pada terlepasnya seseorang dari penderitaan; keselamatan harus membawa manusia hidup bagi kehendak Allah.

    Injil Matius menggambarkan bahwa roh-roh jahat itu telah mengenali Yesus sebagai Anak Allah, bahkan sebelum Ia bertindak. Mereka mengetahui bahwa Yesus memiliki otoritas dan bahwa akan tiba waktu ketika seluruh kekuatan kejahatan dihakimi. Benteng-benteng yang selama ini menakutkan manusia tidak dapat mempertahankan pengaruhnya di hadapan otoritas Allah yang dinyatakan melalui Yesus. Kebenaran ini tidak diberikan supaya orang percaya menjadi terobsesi pada dunia roh atau melihat roh-roh jahat di balik setiap persoalan. Perhatian utama Matius justru diarahkan kepada Yesus. Pertanyaannya bukan seberapa mengerikan kuasa kegelapan, melainkan: siapakah Yesus sehingga roh-roh jahat pun tunduk kepada perintah-Nya? Dialah Anak yang dikasihi Bapa, yang diutus dan diberi kuasa untuk menghadirkan pemerintahan Allah. Pelayanan-Nya menyatakan bahwa Kerajaan Allah sedang menerobos wilayah yang dikuasai dosa, kematian, kehancuran, dan ketakutan.

    Pertanyaan para roh jahat, “Apakah Engkau datang untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” juga memperlihatkan bahwa kejahatan mempunyai batas. Penghakiman terakhir memang belum digenapi, tetapi kemenangan Allah telah mulai dinyatakan melalui pelayanan Yesus. Karena itu, orang percaya tidak perlu hidup dalam ketakutan seolah-olah kuasa gelap menentukan akhir sejarah. Bapa telah menetapkan hari ketika segala kejahatan diselesaikan. Sambil menantikan hari itu, kita dipanggil untuk berdiri di pihak Kerajaan-Nya, menolak dosa, dan menghadirkan kehidupan di tengah dunia yang masih terluka.

    Namun, kita harus memeriksa diri dengan jujur. Roh-roh jahat mengenal identitas Yesus dan menyebut-Nya Anak Allah, tetapi pengenalan itu tidak membuat mereka mengasihi atau menaati Allah. Berarti, pengetahuan yang benar mengenai Yesus belum tentu merupakan iman yang menyelamatkan. Seseorang dapat mengucapkan pengakuan yang tepat, memahami doktrin, bahkan mengetahui ayat-ayat Alkitab, tetapi tetap mempertahankan kehendaknya sendiri. Iman sejati bukan hanya mengenali otoritas Yesus, melainkan bersedia menempatkan seluruh hidup di bawah otoritas tersebut.

    Apakah masih ada wilayah dalam diri kita yang tidak boleh disentuh oleh firman? Mungkin bukan kerasukan seperti yang dialami dua orang Gadara, tetapi ada kebencian yang dipelihara, nafsu yang disembunyikan, ambisi yang menguasai, kepahitan yang dianggap wajar, atau kebiasaan dosa yang terus dibela. Semua itu dapat merampas kebebasan batin. Kita mungkin tetap beribadah, tetapi jalan hidup kita telah dikuasai oleh sesuatu selain kehendak Allah. Yesus datang bukan sekadar membuat kita merasa aman, melainkan membebaskan kita agar kembali hidup bagi Allah. Pembebasan harus direspons dengan pertobatan, pemberesan, dan ketaatan. Kita tidak boleh meminta kuasa Tuhan sambil mempertahankan tempat bagi dosa. Kita juga tidak dapat menggunakan anugerah sebagai alasan untuk bersikap pasif. Anugerah membuka jalan pemulihan; tanggung jawab kita adalah meninggalkan kegelapan dan berjalan dalam terang.

  • Seseorang yang tenggelam di dalam air akan mengalami kepanikan yang luar biasa. Dengan sekuat tenaga ia akan berteriak meminta pertolongan, walaupun air masuk ke hidung dan mulutnya. Dalam kepanikan dan ketakutannya, ia bahkan dapat meronta-ronta ketika seseorang sedang berusaha menolongnya. Bukan karena ia tidak mau ditolong, melainkan karena kepanikan dan ketakutannya membuat ia tidak dapat sepenuhnya menyerahkan diri untuk ditolong. Dalam keadaan seperti ini, yang membahayakan bukan hanya air yang dapat menenggelamkannya, melainkan juga perlawanannya terhadap pertolongan itu sendiri.

    Sebagai orang percaya, kita tidak kebal terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Allah tidak pernah menjanjikan bahwa langit kehidupan orang percaya akan selalu cerah; sebaliknya, awan hitam pekat dapat membayangi. Allah juga tidak pernah menjamin bahwa jalan hidup orang percaya akan selalu mulus tanpa gangguan; sebaliknya, jalan terjal dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, bagaimana respons kita terhadap kenyataan tersebut akan membuktikan siapa yang kita percayai selama ini.

    Demikian pula para murid Tuhan Yesus tidak dapat menghindarkan diri dari masalah. Mereka berseru dan berteriak meminta pertolongan. Sekilas, tidak ada yang salah dengan seruan dan permintaan tersebut. Itu manusiawi dan dapat diterima oleh akal sehat. Kita pun dapat meminta pertolongan Tuhan dengan seruan dan teriakan, walaupun hanya bergema di dalam batin. Yang keliru bukanlah permintaan tolong mereka, melainkan ketidakpercayaan yang tersirat dalam perkataan, “Kita binasa.” Inilah yang membuat Tuhan Yesus menegur murid-murid-Nya dengan berkata, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Mereka belum binasa, tetapi merasa seolah-olah kebinasaan sudah pasti terjadi. Perahu mereka belum tenggelam, tetapi mereka merasa seakan-akan tidak ada lagi harapan. Selama Tuhan Yesus berada di dalam perahu, mereka memang tidak terhindar dari guncangan badai dan terpaan gelombang, tetapi mereka berada dalam pemeliharaan-Nya. Demikian pula kehidupan orang percaya: selama kita berada di dalam tangan Tuhan, badai dapat mengguncang, tetapi hidup kita tetap berada dalam kedaulatan-Nya.

    Mengapa Tuhan Yesus menghardik angin dan danau setelah menegur murid-murid-Nya? Mengapa Ia tidak menenangkan angin dan danau terlebih dahulu, baru menasihati mereka? Ternyata, keadaan manusia jauh lebih penting daripada persoalan yang sedang dihadapinya. Keberadaan manusia di hadapan Tuhan jauh lebih penting daripada berbagai persoalan hidupnya. Tuhan berdaulat menolong manusia dari berbagai penderitaan, bukan berarti Tuhan kurang memberikan perhatian. Namun, di atas semua persoalan manusia, Allah lebih memberikan perhatian kepada manusia itu sendiri. Jangan sampai persoalan membuat kita tidak percaya, mencurigai-Nya, apalagi menuduh Tuhan sebagai penyebab berbagai masalah. Inilah yang menjadi perhatian Tuhan Yesus terhadap murid-murid-Nya: bagaimana mungkin mereka yang selama ini bersama-Nya ternyata masih kurang memercayai Dia?

    Kiranya perjalanan kita bersama Allah Bapa dan Tuhan Yesus dilandasi oleh kepercayaan penuh kepada-Nya. Tuhan menghendaki kita berada dalam pemeliharaan-Nya dalam kebutuhan jasmani, terlebih dalam keadaan jiwa dan kerohanian kita. Karena itu, jangan lelah untuk tetap memercayai Dia. Bertahanlah dan nantikanlah pertolongan-Nya. Tuhan tidak selalu bekerja secepat yang kita inginkan, tetapi pertolongan-Nya datang pada waktu yang tepat. Sebab yang kita perlukan adalah pertolongan yang tepat menurut waktu-Nya, bukan pertolongan cepat menurut waktu kita.

  • Matius 8:23

    Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.

    Murid-murid tentu bersukacita ketika masuk ke dalam perahu bersama Guru mereka. Sebab, perjalanan yang menyenangkan bukan semata-mata tentang tempat atau destinasi yang akan dituju, melainkan dengan siapa perjalanan itu dilakukan. Walaupun perjalanan mencapai ribuan kilometer, jika dijalani bersama teman atau sahabat yang menyenangkan, jarak yang jauh dapat terasa pendek dan tidak berarti. Sebaliknya, perjalanan yang hanya beberapa kilometer, tetapi dijalani bersama orang yang tidak kita sukai, dapat terasa begitu panjang dan seolah-olah tidak kunjung sampai. Demikian pula, murid-murid tentu tidak berharap bahwa perjalanan bersama Guru mereka akan menghadapi masalah atau hambatan. Namun, kenyataan sering kali berbeda dengan harapan.

    Matius 8:24 mencatat, “Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.” Manusia tidak dapat mengatur eskalasi atau datangnya sebuah masalah. Masalah dapat tiba-tiba datang menghampiri tanpa jeda dengan tekanan yang maksimal. Para murid menghadapi kenyataan yang berbeda dengan harapan awal mereka. Perahu mereka ditimbus gelombang serta diterpa angin ribut atau badai yang mengamuk. Ini bukan sekadar gambaran tentang cuaca buruk, melainkan keadaan yang sangat mematikan. Satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian adalah bahwa sebagian murid berprofesi sebagai nelayan. Mereka tentu mengenal cuaca dan mengetahui bagaimana menghadapinya. Namun, kali ini tampaknya mereka kewalahan. Di tengah kepayahan dan keputusasaan, mereka membangunkan Tuhan Yesus seraya berkata, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Dalam Markus 4:38 dicatat, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan mereka sudah hampir habis dan segala usaha yang dilakukan tampaknya sia-sia.

    Dari peristiwa ini kita melihat bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya hanya mengandalkan kekuatannya dalam menghadapi berbagai peristiwa hidup yang menyakitkan dan menakutkan. Amsal 3:5 mengatakan, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Jangankan sepenuhnya bersandar atau percaya kepada orang lain, firman Tuhan bahkan menasihati kita untuk tidak bersandar kepada pengertian sendiri. Pengalaman, kemampuan, dan pengetahuan tetap berguna, sebagaimana pengalaman para murid sebagai nelayan. Namun, semuanya memiliki batas. Ada keadaan ketika manusia harus menyadari keterbatasannya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada pertolongan Allah.

    Ketenangan Tuhan Yesus di tengah badai hingga membuat-Nya terlelap di perahu bukan menandakan ketidakpedulian-Nya terhadap nasib atau keadaan murid-murid-Nya. Tuhan Yesus tidak terbangun oleh badai yang mengamuk, angin yang menerjang, dan gelombang yang menimbus perahu, tetapi Ia bangun ketika murid-murid datang membangunkan-Nya dan meminta pertolongan. Sekali lagi, bukan berarti Tuhan Yesus tidak peduli. Peristiwa tersebut justru menunjukkan kedaulatan-Nya atas keadaan yang tampaknya telah berada di luar kendali manusia. Apa yang membuat para murid begitu ketakutan ternyata tetap berada di bawah kuasa-Nya.

    Dalam kehidupan orang percaya, badai dapat hadir dalam berbagai bentuk: keharmonisan rumah tangga yang terguncang, kekerasan dalam rumah tangga yang terus terjadi, ketidaksetiaan pasangan, persoalan keuangan yang mengguncang sendi-sendi keluarga, penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh, atau usaha yang semakin sulit di tengah krisis mencari nafkah. Doa sudah dinaikkan berulang kali dan pengharapan terus dipanjatkan, tetapi pertolongan tampaknya belum juga datang. Dalam keadaan demikian, dapat muncul suara di dalam hati yang berkata, “Tuhan, apakah Engkau tidak peduli terhadap keadaanku?” Gereja tidak selalu memiliki jawaban atas setiap pertanyaan dan pergumulan hidup jemaatnya. Pendeta juga setali tiga uang, tidak selalu memiliki jawaban atau solusi atas setiap permasalahan. Namun, Tuhan selalu memiliki jawaban atas apa pun yang kita alami. Tidak mungkin Tuhan menutup mata dan telinga terhadap apa yang sedang kita hadapi. Ia bukan Allah yang mati, melainkan Allah yang hidup dari dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya, dari kekal sampai kekal.

    Pertolongan Tuhan datang dengan cara dan pada waktu-Nya. Di sinilah dibutuhkan kesabaran sekaligus kepercayaan untuk menantikan pertolongan-Nya. Jeda waktu dalam penantian bukan berarti Tuhan membiarkan kita semakin tenggelam. Justru dalam masa penantian itulah kepercayaan kita kepada Allah diuji dan dibuktikan. Kenyataan memang dapat berbeda dengan harapan, tetapi perbedaan itu tidak berarti Allah kehilangan kendali. Ketika keadaan belum berubah sebagaimana yang kita harapkan, tetaplah percaya kepada-Nya. Tuhan mengetahui keadaan kita dan Ia akan bertindak menurut cara serta waktu-Nya.

  • Sebelum peristiwa Yesus meredakan angin ribut. Dalam Matius 8:20 mencatat, Yesus berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Justru di tengah penyeberangan itulah badai datang. Murid-murid yang benar-benar mengikuti-Nya ke dalam perahu langsung diperhadapkan pada badai yang mengamuk. Kondisi ini secara harfiah membawa murid-murid ke tengah krisis yang menguji iman mereka. Perikop tentang angin ribut yang diredakan dapat dipahami sebagai “ujian lapangan” dari pelajaran yang baru saja Tuhan Yesus berikan. Hal ini bukanlah sebuah kebetulan atau peristiwa tanpa makna. Seseorang yang memiliki minat, tekad, dan semangat untuk mengikut Tuhan akan diuji melalui berbagai keadaan dan peristiwa untuk membuktikan kesungguhannya. Ujian itu bukan untuk menjatuhkan para murid, melainkan untuk membawa mereka semakin mengenal sosok yang sedang mereka ikuti.

    Matius 8:23–27 mencatat, Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” Murid-murid itu telah mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus masuk ke dalam perahu. Namun, pengiringan tersebut ternyata tidak membawa mereka menjauh dari badai. Justru ketika berada bersama Yesus, mereka harus berhadapan dengan keadaan yang mengancam nyawa.

    Murid yang sejati ditandai dengan kepercayaan yang bulat dan utuh kepada gurunya. Ketika Tuhan Yesus naik ke perahu, murid-murid mengikuti-Nya tanpa mengetahui apa yang akan terjadi di tengah perjalanan. Di sinilah kepercayaan mereka kemudian diuji. Apakah mereka tetap memercayai Tuhan ketika keadaan tidak lagi aman? Kepercayaan kepada Allah memang akan berhadapan dengan berbagai fenomena krisis kehidupan yang nyata. Kesehatan dapat tiba-tiba memburuk, keharmonisan keluarga dapat terguncang, dan persoalan keuangan dapat melanda tanpa jeda. Dalam keadaan demikian, doa dan permohonan dinaikkan agar Tuhan menolong ketika kehidupan terasa hampir tenggelam ditelan persoalan. Kondisi inilah yang dialami para murid ketika terjadi ketegangan antara iman dan kenyataan di tengah badai yang benar-benar mengancam nyawa mereka.

    Apa yang dialami para murid bukan sekadar cerita tentang mukjizat ketika angin dan gelombang reda seketika, melainkan juga penyingkapan tentang siapa Tuhan Yesus sesungguhnya. Pertanyaan mereka, “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” menunjukkan bahwa melalui badai tersebut mereka sedang dibawa kepada pengenalan yang lebih dalam terhadap Pribadi yang mereka ikuti. Di samping itu, terdapat pelajaran penting bahwa pertumbuhan iman harus melewati serangkaian ujian. Bagaimana seseorang belajar percaya kepada Allah yang kuat jika ia tidak pernah berada dalam keadaan lemah, tidak berdaya, dan membutuhkan pertolongan-Nya? Namun, tidak sedikit orang menjadi ragu terhadap kuasa Allah ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Kita bahkan sering ingin mengatur cara Allah menolong dan mengarahkan-Nya sesuai dengan keinginan kita. Padahal, manusia hanyalah ciptaan yang sepenuhnya bergantung kepada-Nya.

    Sejatinya, kita harus memercayai Allah secara utuh dan menyadari bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Karena itu, dalam setiap keadaan atau fenomena kehidupan yang dihadapi orang percaya, kuncinya adalah mengasihi Tuhan. Kasih kepada Tuhan membuat seseorang tetap bertahan ketika standar pengiringannya diuji. Badai tidak selalu berarti bahwa seseorang berada di jalan yang salah. Para murid justru menghadapi badai ketika mereka sedang mengikuti Tuhan Yesus. Melalui badai itulah iman dimurnikan dan pengenalan akan Tuhan diperdalam. Kasih kepada Tuhan inilah yang membawa orang percaya tetap memercayai kuasa, pemeliharaan, dan perlindungan-Nya, bahkan ketika keadaan yang sedang dihadapi belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

  • Tuhan Yesus yang kita ikuti menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat di bumi ini, berbeda dengan serigala yang memiliki liang dan burung yang mempunyai sarang. Pernyataan ini bukan berarti Tuhan Yesus miskin, papa, dan terhina. Dunia memang bukan rumah-Nya. Dunia merupakan ladang pelayanan dan persinggahan sementara, bukan “tempat atau rumah” untuk dihuni, bahkan sekadar untuk meletakkan kepala. Kita mengiring Tuhan Yesus bukan untuk mendapatkan berbagai sarana kehidupan di dunia ini. Pengiringan kita kepada Tuhan tidak menawarkan balasan berupa pemenuhan kebutuhan jasmani. Namun, bukan berarti kita harus menjadi miskin, berkekurangan, menjadi benalu, atau mengganggu kehidupan orang lain. Allah pasti menjaga, melindungi, dan memenuhi segala kebutuhan kita secara bertanggung jawab.

    Jika memperhatikan panggilan seorang ahli Taurat dan seorang murid kepada Tuhan Yesus, kita akan menemukan sesuatu yang mendasar. Dalam Matius 8:19, ahli Taurat memanggil Tuhan Yesus dengan sebutan “Guru.” Sementara itu, pada ayat ke-21, murid tersebut memanggil-Nya dengan sebutan “Tuhan.” Ahli Taurat memandang adanya kesetaraan antara dirinya dan Tuhan Yesus, sama-sama ahli dalam urusan langit. Sebaliknya, sebutan “Tuhan” menunjukkan pengakuan terhadap seorang penguasa yang kepadanya seseorang harus menundukkan diri sebagai subordinat, yaitu berada pada posisi yang lebih rendah atau sebagai bawahan. Sikap ini merupakan awal yang baik dalam berurusan dengan Allah sebagai satu-satunya Penguasa tertinggi. Orang tersebut sudah menjadi murid Tuhan Yesus, sebagaimana teks menyebutnya “murid”, sedangkan ahli Taurat belum sampai pada tahap tersebut. Namun, sayang seribu kali sayang, kesempatan murid itu untuk menjadi murid yang sehati terhalang oleh dirinya sendiri. Ia tidak all out. Ia masih memiliki berbagai perhitungan atau proyek lain di luar apa yang dikerjakan Tuhan Yesus.

    Murid itu meminta izin untuk menunda pengiringannya kepada Tuhan Yesus dengan alasan yang sebenarnya masuk akal. Namun, Tuhan Yesus menjawab, “Biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” Jangan menunda atau berkata “nanti” untuk segala hal yang berkaitan dengan pengiringan kita kepada Allah, sebab “nanti” itu dapat tidak pernah datang. Sebab akan selalu ada “nanti-nanti” yang lain. Mengikut Tuhan Yesus menuntut keputusan sekarang, bukan setelah seluruh urusan kehidupan selesai. Dinamika hidup akan selalu menghadirkan alasan baru untuk menunda.

    Pengajaran Tuhan Yesus ini tidak menceritakan keputusan akhir ahli Taurat dan murid tersebut setelah mendengar jawaban-Nya. Apakah mereka tetap mengikut Tuhan Yesus atau justru mundur setelah mendengar pernyataan-Nya? Hal ini memberikan pelajaran sekaligus pertanyaan reflektif kepada orang-orang percaya masa kini. Apakah kita sudah benar-benar menjadi murid-Nya? Apakah kita adalah pengikut Kristus yang sejati? Jawabannya dapat terlihat dari kondisi kita saat ini: apakah kita masih setia menjadi murid dan pengikut Tuhan Yesus dengan semangat seperti pada mulanya, atau kerajinan kita mulai mengendur dan kita mulai berpikir untuk berhenti?

    Pada akhirnya, komitmen menjadi murid dan pengikut Tuhan Yesus akan diuji habis-habisan, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membuktikan dan mengokohkan kesejatian sebuah janji atau ikrar. Karena itu, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus yang memberi kemampuan, kekuatan, dan pendampingan agar pengiringan kita kepada Tuhan Yesus tetap kokoh dengan semangat yang membara demi Kerajaan Bapa di surga. Jangan membiarkan kata “nanti” menjadi alasan yang terus menunda ketaatan. Ketika Tuhan memanggil untuk mengikut-Nya, keputusan itu harus diwujudkan dalam kesetiaan hari ini.

  • Kita banyak menemukan kisah dalam Injil-Injil Sinoptik yang memperlihatkan posisi ahli-ahli Taurat yang senantiasa berseberangan dengan Tuhan Yesus. Ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi kerap mengkritik apa yang Tuhan Yesus ajarkan dan lakukan dengan berbagai argumentasi. Misalnya, ketika Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, berkumpul dan makan bersama para pemungut cukai yang dipandang sebagai orang-orang berdosa yang harus dijauhi, serta ketika berhadapan dengan berbagai adat istiadat Yahudi yang dijaga dengan ketat. Menyampaikan kritik tentunya tidak salah atau melanggar tata krama yang berlaku secara umum. Namun, yang terjadi antara ahli-ahli Taurat dan Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang dapat disebut kontrarian: apa pun yang dikatakan dan dilakukan Tuhan Yesus selalu ditentang. Sikap semacam ini dapat mengarah pada kesesatan berpikir yang disebut argumentum ad hominem, yaitu ketika seseorang tidak membantah argumennya, tetapi justru menyerang pribadi yang menyampaikannya. Ahli-ahli Taurat tidak lagi sekadar menyampaikan kritik, tetapi cenderung menganggap apa pun yang dikatakan atau dikerjakan Tuhan Yesus sebagai sesuatu yang salah, menyimpang, bahkan menista agama Yahudi. Sikap tersebut bukan lagi didasari oleh pemikiran kritis, melainkan ketidaksukaan terhadap sosok Tuhan Yesus. Namun, ada hal menarik yang dicatat dalam Matius 8:19, “Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.’”

    Jika berada pada posisi Tuhan Yesus, seseorang mungkin akan bersikap ekstra hati-hati terhadap pernyataan ahli Taurat tersebut. Bisa saja muncul dugaan bahwa perkataan itu tidak sungguh-sungguh, sekadar bercanda, atau bahkan merupakan strategi untuk menjatuhkan-Nya. Memang, kita sering membaca berbagai perilaku ahli Taurat yang mengganggu pelayanan Tuhan Yesus, tetapi tidak berarti semua ahli Taurat dapat disamakan. Jika melakukan generalisasi seperti itu, kita pun dapat terjerat dalam kesesatan berpikir yang lain. Seseorang yang hidup dalam dosa pada masa lalu belum tentu masih hidup dalam keberdosaannya hari ini. Bisa jadi ia telah bertobat dan berubah. Masa lalu seseorang tidak boleh dijadikan dasar untuk menutup kemungkinan adanya pertobatan. Mereka yang pernah berbuat dosa juga memiliki kesempatan untuk berubah. Tuhan Yesus tidak hanya melihat masa lalu, tetapi juga keadaan manusia pada saat ini. Ia tidak membalas kejahatan ahli-ahli Taurat dengan perkataan kasar. Bahkan ketika salah seorang dari mereka menyatakan keinginan untuk mengikut-Nya, Tuhan Yesus tetap menjawab dengan tulus sekaligus membuka pengertiannya.

    Matius 8:20 mencatat, “Yesus berkata kepadanya: ‘Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.'” Sekilas, jawaban Tuhan Yesus tampak tidak menjawab pernyataan ahli Taurat tersebut. Ahli Taurat berkata, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Jawaban sederhana yang mungkin diharapkan adalah “ya, boleh”, “silakan”, atau “jangan”. Namun, Tuhan Yesus tidak menjawab “ya” atau “tidak”. Ia memberikan pemaknaan yang jauh lebih dalam dengan menguji kesungguhan dan kedalaman komitmen ahli Taurat tersebut. Mengikut Tuhan Yesus bukan sekadar keputusan yang lahir dari kekaguman, melainkan kesediaan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut.

    Perkataan bahwa “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” menunjukkan bahwa mengikut Tuhan Yesus tidak selalu membawa seseorang kepada kenyamanan dan keamanan hidup seperti yang dibayangkan. Ahli Taurat itu perlu menghitung terlebih dahulu harga dari perkataannya sendiri, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Mengikuti Yesus ke mana saja berarti bersedia mengikuti-Nya bahkan ketika perjalanan itu membawa kepada ketidaknyamanan, kehilangan, pengorbanan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Tuhan Yesus tidak sedang menolak ahli Taurat tersebut, tetapi menolongnya memahami konsekuensi dari keputusan yang hendak diambilnya.

    Allah tidak menolak orang yang datang kepada-Nya, menjadi bagian dalam keluarga orang percaya, bahkan mengambil komitmen untuk menjadi full-timer atau pekerja penuh waktu dalam pelayanan. Namun, Allah menghendaki agar keputusan itu tidak diambil secara gegabah. Seseorang harus benar-benar memahami apa artinya menjadi pengikut Kristus dan kemudian mengambil keputusan dengan kesadaran penuh. Tuhan Yesus tidak menawarkan pengiringan yang penuh kenyamanan, tetapi kehidupan yang menuntut penyerahan diri. Karena itu, sebelum berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi,” setiap orang perlu memahami bahwa mungkin ada saatnya ia harus berjalan bersama Tuhan tanpa memiliki “tempat” yang memberikan rasa aman dan nyaman. Di situlah kualitas komitmen seorang murid mulai dibuktikan.